SUGENG RAWUH SEDEREK-SEDEREK
SELAMAT MENIKMATI

Laman

Search This Blog

Friday, November 8, 2013

PEMELIHARAAN HADIS PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW-SAHABAT-TABI’IN


A.    Definisi Pemeliharaan
Istilah pemeliharaan berakar pada kata “pelihara” yang berarti “jaga atau rawat”, kata ini mendapatkan imbuhan pe dan an yang berarti “perbuatan atau hal memelihara(kan); penjagaan; perawatan”.
Jadi yang dimaksud pemeliharaan hadis pada pembahasan ini adalah beberapa usaha yang dilakukan oleh pihak terkait dalam memelihara hadis agar tetap lestari dan juga menjaganya dari hal-hal negatif seperti kepunahan, kerusakan, penyelewengan, pemalsuan dan sebagainya.
B.     Pemeliharaan hadis pada masa Nabi Muhammad SAW
Hadis-hadis yang telah diterima oleh para sahabat, ada yang dihafal dan ada juga yang dicatat. Sahabat yang menghafal hadis Nabi misalnya adalah Abu Hurairah. Sedangkan sahabat Nabi yang mencatat hadis diantaranya yaitu Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar Al-‘Ash, dan Abdullah bin Abbas. Dengan demikian, penulisan hadis sudah dilakukan sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, hanya saja penulisan ini masih bersifat individual, bukan masal (kodifikasi).
Selain penulisan dan penghafalan, usaha pemeliharaan hadis juga terjadi dikala Nabi Muhammad SAW mengutus para sahabat ke berbagai daerah, baik untuk berdakwah atau untuk memangku jabatan. Hal ini juga ditengarai menjadi salah satu faktor utama tersebarnya hadis ke berbagai daerah. Dengan tersebarnya hadis ke berbagai tempat, maka semakin bertambah pula periwayatan yang terjadi di dalamnya. Oleh karena itu, apabila terjadi pemalsuan, maka hadis-hadis shahih yang lain dapat dijadikan sebagai pembanding dan patokan. Dengan demikian semakin banyak hadis yang tersebar, maka akan semakin kecil kemungkinan tidak diketahuinya pemalsuan hadis.
C.    Pemeliharaan hadis pada masa Sahabat
Tantangan pada masa sahabat terhadap usaha pemeliharaan hadis lebih rumit dibandingkan pada masa Nabi Muhammad masih hidup, sebab pada masa Nabi masih hidup seseorang akan lebih mudah melakukan pemeriksaan sekiranya ada hadis yang diragukan keshahihannya, yaitu dengan cara bertanya pada sahabat-sahabat kepercayaan Nabi dan bahkan menanyakan atau mengkonfirmasikannya secara langsung kepada Nabi SAW.
Terdapat beberapa upaya yang dilakukan oleh para sahabat dalam memelihara hadis, yaitu:
1.      Para khalifah memberikan persyaratan terhadap penerimaan hadis dengan mendatangkan saksi dan mengucapkan sumpah. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pemalsuan hadis yang sedang marak terjadi dimasyarakat.
2.      Taqlil ar-riwayat (تقليل الرواية)
Pembatasan terhadap kegiatan periwayatan hadis pada masa ini dibatasi adalah karena khawatir terjadinya pemalsuan hadis yang dilakukan oleh mereka yang baru masuk Islam, sebab sunnah belum terlembaga pengumpulannya sebagaimana Al-Qur’an. Para sahabat sedang bekerja keras dan berfokus pada pembukuan dan penyebaran Al-Qur’an ke berbagai penjuru daerah.
3.      Tatsabbut fi ar-riwayat (تثبُّتٌ في الرواية)
Tatsabbut fi ar-riwayat adalah usaha yang dilakukan oleh para sahabat dalam memelihara dan menjaga hadis dengan cara memeriksa dan mengkonfirmasikan hadis yang mereka riwayatkan kepada sahabat lainnya. Hal ini untuk menghindari hadis-hadis palsu yang sudah banyak tersebar.

D.    Pemeliharaan hadis pada masa Tabi’in
Pada masa sahabat Al-Qur’an masih dalam proses kodifikasi, sedangkan pada masa tabi’in Al-Qur’an sudah selesai dikodifikasi. Perbedaan inilah menjadikan tindakan masing-masing generasi (generasi sahabat dan tabi’in) terhadap hadis berbeda. Pada masa sahabat terlihat adanya pembatasan periwayatan (taqlil ar-riwayat), sedangkan pada masa tabi’in sebaliknya dikenal sebagai menyebarnya periwayatan hadis.
Dalam rangka usaha memelihara hadis, tabi’in melakukan perlawatan dan berangkat mencari hadis , menanyakan dan belajar kepada sahabat besar yang sudah tersebar di seluruh pelosok wilayah Daulah Islam. Sehingga lahirlah berbagai pusat kajian hadis seperti di Madinah, Mekkah, kuffah, Basrah, Syam, dam  Mesir.
Usaha pemeliharaan hadis yang paling besar pada masa ini adalah usaha pengumpulan dan pembukuan (tadwin) hadis secara masal yang dipelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau melakukan ini karena para perawi yang mengumpulkan hadis (secara mandiri atau individual) dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya karena meninggal dunia. Beliau khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadits dari para  perawinya, mungkin hadits itu akan lenyap dari para penghafalnya.


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hlm. 1143.
[2] Ibid, hlm. 1144.
[3] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995), hlm. 38.
[4] H. M. Erfan Soebahar, Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi Informasi, (Semarang: RaSAIL Mdia Group, 2010), hlm. 29.
[5] M. Syuhudi Ismail, Op. Cit., hlm. 36.
[6] Ibid., hlm. 49.
[7] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 85.
[8] Endang Soetari, Ilmu Hadits  Kajian Riwayah dan Dirayah, (Bandung: Mimbar Pustaka, 2008), Cet-5. Hlm. 47.
[9] Agus  Solahudin dkk., Ulumul Hadits, (Bandung, Pustaka Setia, 2009), hlm. 62.



Tulisan di atas dapat anda download, bagi yang mau...
Silahkan Download teksnya Lewat
SINI

Thursday, November 7, 2013

CONTOH KHUTBAH JUM'AT



KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
قال الله تعالى في القرآن العزيز: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
Jama’ah salat jum’at yang dirahmati Allah!
Belum lama, 3 hari yang lalu terjadi pergantian tahun (1434-1435 H). Pada akhir tahun semua orang serentak menadahkan tangan ke atas dan bermunajat kepada Allah seraya memanjatkan doa akhir tahun mengharapkan ampunan Allah atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat pada tahun yang akan segera berganti. Dan kemudian pada awal tahun semua orang memanjatkan doa awal tahun kepada Allah mengharapkan pergantian tahun sebagai pijakan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kualitas ibadah, iman, dan akhlak melebihi iman, ibadah dan akhlak pada tahun yang sudah lewat.
Setelah kita meminta ampun kepada Allah, menyadari dosa-dosa yang telah diperbuat dan bertaubat pada akhir tahun, kemudian pada awal tahunnya kita berikrar kepada Allah untuk tidak kembali melakukan dosa-dosa yang telah diperbuat dan menjadi hamba Allah yang lebih baik, marilah kita teliti apa sumber dosa dan kejelekan yang selama ini kita perbuat. Dengan mengetahui sumbernya, maka kita dapat mengontrol diri kita untuk tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tercela dan menjauhi perbuatan-perbuatan tercela tersebut.
Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menja'uhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang pertama harus kita hindari adalah sikap sombong.
Menurut Al-Ghazali, sombong adalah suatu sifat di dalam jiwa yang tumbuh dari penglihatan nafsu. Sifat ini bermula dari virus hati yang menganggap dirinya paling lebih dalam hal-hal tertentu. Sedangkan orang lain dalam pandangannya adalah hina dan lebih rendah darinya.
Secara tidak langsung orang yang sombong telah menganggap dirinya sama dengan Allah. Kesombongan adalah selendang Allah dan Dia-lah yang berhak untuk sombong. Oleh karena itu Allah SWT sangat melarang para hambanya untuk bersikap sombong, sebagaimana firman-Nya:
وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (١٨)
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Luqman: 18)
لا جَرَمَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ (٢٣)
Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. An-Nahl: 23)
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Akibat
Kesombongan adalah dosa yang begitu besar, hingga jika seseorang yang dalam hatinya tersimpan kesombongan seberat biji sawi pun, maka ia tidak akan masuk surga, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim)
Demikianlah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. Di dalam hadis tersebut Nabi memberikan isyarat bahwa kita tidak boleh main-main dengan penyakit sombong. Karena kesombongan sekecil apapun dapat mengakibatkan kita tidak dapat masuk surga. Mengapa bisa demikian? Nabi Muhammad sudah menjelaskan dua kriteria sifat sombong di dalam hadis tersebut, yaitu:
1.      بطر الحقّ, (menolak kebenaran). Orang yang mempunyai sifat sombong adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran. Meraka menolaknya dan bahkan menganggap kebenaran tersebut sebagai kesalahan. Orang yang rajin beribadah, namun jika di dalam ibadahnya tersebut terdapat sedikit saja kesombongan, maka ibadahnya akan sia-sia. Ketika seseorang melakukan perbuatan tercela, berarti di dalam hatinya terdapat sifat sombong, yaitu kesombongan untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bahkan dia mengabaikan ancaman dan hukuman yang telah Allah siapkan baginya. Oleh karena itu, perbuatan tercela seperti apapun, pasti bermula dari adanya sifat sombong. Allah SWT pun berfirman:
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (١٤٦)
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya”. (QS. Al-A’raf: 146)
2.      غمط الناس, (menghina orang). Sifat sombong dapat merubah manusia menjadi gelap mata. Ketika seseorang mempunyai sifat sombong, maka ia menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain dan kemudian membuat dia mudah untuk menghina dan meremehkan orang-orang yang berada di bawahnya. Dua pihak yang pada awalnya memiliki ikatan persaudaraan yang sangat kuat, hanya karena sifat sombong dapat berubah menjadi perang saudara, saling menyakiti, saling memukul dan bahkan hingga saling membunuh.
Inilah alasan mengapa orang yang memiliki penyakit sombong tidak dapat masuk surga. Penyakit sombong adalah gerbang munculnya perbuatan-perbuatan tercela dan tidak baik.
Sifat sombong adalah virus yang sangat berbahaya. Virus ini dapat menggerogoti aqidah, iman, amal, pahala, dan rasa sosial manusia. Ketika virus ini bersarang dihati manusia, maka ia akan merusak fungsi-fungsi anggota tubuh manusia, sehingga anggota-anggota tubuh tersbut tidak akan berfungsi normal dan sebagaimana mestinya. Mulut yang dianugerahkan Allah untuk digunakan berdzikir dan berbicara baik, berubah menjadi mulut yang sering mencela, membicarakan kejelekan orang lain, berbohong dan sebagainya. Tangan yang semestinya digunakan untuk menolong orang lain, berubah menjadi tangan yang sering menyakiti orang lain. Tubuh menjadi malas untuk melakukan ibadah. Seperti itulah bahaya dari sifat sombong yang bersarang di hati manusia.
Jama’ah salat jum’at yang dirahmati Allah!
Kita harus mencontoh akhlak Rasulullah SAW, beliau adalah Utusan Allah dimuka bumi ini, Nabi yang dimuliakan, ma’shum, seorang pemimpin besar, guru besar dan dilahirkan dari keluarga yang sangat terpandang di masyarakat, Namun beliau tidak pernah sedikitpun merasa sombong atas semua itu, itu semua adalah titipan dan amanah dari Allah yang harus dijaga. Oleh karena itu, ketika beliau dicaci, dilempar batu dan kotoran oleh orang-orang kafir, beliau tak sedikitpun marah, bahkan beliau senantiasa mendoakan mereka dan apabila mereka membutuhkan bantuan, maka beliau tidak akan ragu-ragu untuk membantunya. Beliau juga tidak pernah mencela, menyalahkan,dan mencaci orang-orang yang tidak mau mengikuti ajaran-ajaran beliau. Allah memerintahkan kita hanya untuk Amar ma’ruf dan nahi munkar, bukan untuk mencaci dan merendahkan mereka. Sifat rendah hati beliau yang seperti itulah yang menjadikan beliau sebagai manusia yang mulia yang mampu membuat orang-orang diseluruh penjuru dunia ini berbondong-bondong untuk masuk Islam.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56)
Firman Allah tersebut memberitahukan bahwa kita hidup adalah sebagai abdi Allah yang hanya mempunyai kapasitas sebagai seorang hamba yang menyembahnya, bukanlah sebagai tuan layaknya manusia yang sombong. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya untuk senantiasa berendah hati.
Jama’ah salat jum’at yang dirahmati Allah!
Semua orang berpotensi untuk terkena penyakit sombong, entah itu tua-muda, kaya-miskin, laki2-perempuan, guru-siswa, kiyai-santri, pintar-bodoh, atasan-bawahan dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, mari kita semua bersama-sama untuk menghindari sikap sombong mulai dengan mengenali diri kita sendiri.
Manusia hanyalah seorang hamba dan tidak memiliki kuasa sedikitpun.
Segala apa yang kita miliki sekarang adalah titipan dari Allah Sang Pemilik semua itu.
Tidak berhak menyombongkan apapun yang kita miliki
Menghindari sifat sombong akan menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Demikian sebaliknya, membiasakan dan membudayakan sikap rendah hati akan membuahkan perbuatan-perbuatan yang baik. Mari tanamkan dan ajarkan anak-anak kita terlebih dahulu sikap rendah hati, baru kemudian kita ajarkan mereka pengetahuan dan keterampilan. Sehingga pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki tidak akan memberikan kerusakan, melainkan akan mampu memberikan kemajuan, ketentraman dan kedamaian bagi bangsa dan agama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ الذي جعل محمدًا رحمة للعالمين، وأغاث برحمته عموم المخلوقين. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وعِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَعن سَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ.
Ya Allah! Jauhkan kami dan lindungi kami dari sifat sombong, agar kami dapat menjalankan ibadah kepada-Mu dengan khusyu’. Ya Allah! Bersihkan tanah air kami tercinta ini dari wabah penyakit sombong agar negara ini senantiasa damai dan tentram. Ya Allah! Ampuni kami jika selama ini kami membiarkan tubuh ini bergelimangan sifat sombong.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Bagi yang ingin download text khutbah jum'at di atas silahkan lewat SINI