SUGENG RAWUH SEDEREK-SEDEREK
SELAMAT MENIKMATI

Laman

Search This Blog

Wednesday, November 20, 2013

HADIS NABAWI DAN HADIS QUDSI


A.    Pengertian Hadis Nabawi dan Qudsi
1.      Hadis Nabawi
a.       Secara bahasa
Kata “Hadis Nabawi” dalam bahasa Arab ditulis dengan: “الحديث النبويّ”. Kata “الحديث” berkedudukan sebagai maushuf (yang disifati), sedangkan kata “النبويّ” merupakan sifat dari kata “الحديث”. Kata “النبويّ” berasal dari kata “النبي” yang mendapatkan imbuhan ya’ nisbah يّ”. Penambahan ya’ nisbah ini bertujuan agar kata “النبي” dapat dijadikan sebagai sifat untuk kata ”الحديث”, yang mana kemudian kata “الحديث” disandarkan (dihubungkan atau dikaitkan) kepada “النبي”.
Melalui analisis kebahasaan di atas, maka secara bahasa “Hadis Nabawi” dapat diartikan sebagai hadis yang bersifat ke-Nabi-an.
b.      Secara istilah
Sedangkan secara istilah, Hadis Nabawi dapat didefinisikan sebagai berikut:
ما قاله النبي صلّى الله عليه وسلّم أو فعله دون التصريح بنسبته إلى الله عزّ وجلّ[1]
Sesuatu yang diucapkan atau dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, tanpa adanya pernyataan bahwa itu dikaitkan kepada Allah SWT.
ما أضيف إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم من قول أو فعل أو تقرير أو صفة خِلْقية أوخُلُقية أو سيرة سواء كان قبل البعثة أو بعدها [2]
Perkataan, perbuatan, ketetapan, perangai, budi pekerti atau perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, baik sebelum beliau diangkat sebagai Rasul maupun sesudahnya
2.      Hadis Qudsi
a.       Secara bahasa
Seperti halnya dengan istilah “Hadis Nabawi”, istilah “Hadis Qudsi” yang di dalam bahasa Arab ditulis “الحديث القدسيّ” merupakan rangkain “sifat (القدسي)+maushuf (الحديث)”. Kata “القدسيّ” berasal dari kata “القدس” yang mendapatkan imbuhan ya’ nisbah يّ”. Dengan demikian secara bahasa, Hadis Qudsi dapat diartikan sebagai hadis yang dinisbatkan (dihubungkan atau dikaitkan) kepada القدس (Allah Dzat Yang Maha Suci).
b.      Secara istilah
Sedangkan secara istilah, Hadis Qudsi dapat didefinisikan sebagai berikut:
ما رواه النبي صلّى الله عليه وسلّم عن ربّه تعالى[3]
Sesuatu yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW dari Tuhan-Nya (Allah SWT)
الوحي المروي عنه صلّى الله عليه وسلّم عند ربّه عزّ وجلّ[4]
Wahyu yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT
ما أضاف فيه رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قولًا إلى الله عزّ وجلّ بقوله صراحة: "قال الله" أو "يقول الله" أو "إنّ روح القدس نفث في روعي" أو ما شبه ذلك من الألفاظ[5]
Sesuatu yang di dalamnya terdapat sebuah perkataan yang disandarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT, yang mana dengan jelas Nabi mengatakan: “Allah telah berkata” atau “Allah berkata” atau “Sesungguhnya Ruh Qudus (Allah SWT) telah menghembuskan (membisikkan) sesuatu di dalam hatiku” atau menggunakan lafal-lafal lain yang serupa dengannya.

B.     Perbedaan dan Persamaan Hadis Nabawi dan Qudsi
1.      Perbedaan
a.       Hadis Nabawi: Lafal (redaksi) dan maknanya (isi materi) dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan Hadis Qudsi: redaksinya dari Nabi SAW dan isi materinya dari Allah SWT.[6]
b.      Di dalam redaksi Hadis Qudsi Nabi mengatakan: “Allah berkata”, sedangkan dalam Hadis Nabawi Nabi tidak mengatakan seperti itu.
c.       Tema dari Hadis Qudsi pada umumnya berkaitan dengan Dzat Allah dan Sifat-sifat-Nya, sedangkan tema dari Hadis Nabawi lebih umum dari tema Hadis Qudsi seperti; pembahasan tentang hukum-hukum, berita-berita, budi perkerti, akhlak dan lain sebagainya.
d.      Asbabul wurud (sebab datang) Hadis Qudsi berupa perkiraan, sedangkan asbabul wurud Hadis Nabawi ada yang bersifat perkiraan dan ada juga yang bersifat pasti (positive).[7]
2.      Persamaan
a.       Keduanya sama-sama menggunakan redaksi dari Nabi Muhammad SAW.
b.      Materinya sama-sama untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya.

C.    Contoh Hadis Qauliyah, Fi’liyah dan Taqririyah
1.      Hadis Qauliyah
حدّثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن صفوان بن سليم عن عطاء بن يسار عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال: غسل يوم الجمعة واجب على كلّ محتلم.[8] (رواه البخاري)
Abdullah bin Yusuf menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Malik memberikan kabar kepada kami dari Shafwan bin Sulaim dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Mandi hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang dewasa (sudah baligh)”. (HR. Al-Bukhari)
2.      Hadis fi’liyah
حدّثنا أبو معْمر قال حدّثنا عبد الوارث قال حدّثنا خالد عن عكرمة عن ابن عبّاس قال: ضَمّنيْ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم وقال اللهمّ علِّمه الكتاب.[9] (رواه البخاري)
Abu ma’mar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Warits menceritakan kepada kami: ia berkata: Khalid menceritakan kepada kami dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Rasulullah merangkul saya dan berdoa: Ya Allah, ajarkan kepadanya Al-Qur’an”
3.      Hadis taqriri
حدّثنا عبدانُ قال أخبرنا عبد الله قال أخبرنا يونس عن الزهري قال أخبرني أبو إدريس أنّه سمع أبا هريرة عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أنّه قال: مّن توضّأ فاْيستنثر، ومن استجمر فلْيوتر.[10]
Abdan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah berkata memberikan kabar kepada kami, ia berkata: Yunus menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, ia berkata: Abu Idris menceritakan kepada kami bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu hendaklah ia memasukkan air ke hidung, dan barang siapa yang menggunakan batu hendaklah ia mengganjilkannya”

D.    Contoh Hadis Qudsi Tentang Akhlak, Aqidah dan Kesucian atau Kebesaran Dzat Allah
1.      Hadis Qudsi tentang akhlak
حدثنا أبو معمر حدثنا عبد الوارث حدثنا جعد أبو عثمان حدثنا أبو رجاء العطارديّ عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يروى عن ربّه عزّ وجلّ قال: إن الله كتب الحسنات والسيّئات ثم بيّن ذلك، فمن همّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة، فإن هو همّ بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضِعْف إلى أضعاف كثيرة. ومن همّ بسيّئة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة، فإن هو همّ بها فعملها كتبها الله له سيّئة واحدة. (رواه البخاري)[11]
Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi SAW mengenai apa yang telah beliau riwayatkan dari Allah, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Kemudian beliau menjelaskan hal itu: Barang siapa yang bermaksud berbuat baik namun ia tidak mengamalkannya, maka Allah akan mencatat di sisi-Nya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna untuknya. Jika ia bermaksud baik lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat banyaknya. Barang siapa yang bermaksud untuk melakukan perbuatan buruk namun tidak melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bermaksud untuk berbuat buruk lalu ia benar-benar melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu buah keburukan. (HR. Al-Bukhari)
2.      Hadis Qudsi tentang aqidah
حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن صالح بن كيسان عن عبيد الله بن عبد الله ابن عتبة بن مسعود عن زيد بن خالد الجهنّي أنه قال: صلّى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الصبح بالحديبية على أثر سماء كانت من الليلة فلما انصرف أقبل على الناس فقال: هل تدرون ماذا قال ربّكم؟ قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال: مُطرْنا بفضل الله ورحمته فذلك مؤمن بي وكافر بالكوكب، وأما من قال: بنَوْءِ كذا وكذا فذلك كافر بي ومؤمن بالكوكب. (رواه البخاري)[12]
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani  ra, ia berkata: Rasulullah SAW salat subuh untuk kami di Hudaibiyah mengiringi langit malam. Ketika Nabi SAW berpaling, beliau menghadap ke arah orang-orang seraya bersabda: “Apakah kalian mengetahui sesuatu yang difirmankan oleh Tuhan mu?”. Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Dia berfirman: “Sebagian dari hamba-Ku ada yang menjadi beriman kepada-Ku dan ada yang menjadi kafir”. Adapun orang yang berkata: Kami diberi hujan dengan karunia dan rahmat Allah. Itulah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang berkata: Kami diberi hujan karena bintang ini dan ini. Maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan iman kepada bintang”. (HR. Al-Bukhari)
3.      Hadis Qudsi tentang Kebesaran Dzat Allah
حدّثنا سعيد بن عُفير قال حدّثني الليث قال حدّثني عبد الرحمن بن خالد بن مسافر عن ابن شهاب عن أبي سلمة أنّ أبا هريرة قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: يقبض الله الأرض ويطوي السماوات بيمينه ثم يقول: أنا الملِك، أين ملوك الأرض؟. (رواه البخاري)[13]
Said bin ‘Ufair menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Laits menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Khalid bin Masafir menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan-Nya, kemudian Allah berfirman: “Aku adalah Raja, di manakah raja-raja bumi?” (HR. Al-Bukhari)



BAGI YANG INGIN DOWNLOAD MAKALAH DI ATAS SELENGKAPNYA SILAHKAN LEWAT DI SINI

[1] Muhammad Abu Laits, Mu’jam Mushthalahat Al-Hadis wa Ulumihi wa Asyharu Al-Mushannifin Fihi, hlm. 57.
[2] Ibid., hlm. 54.
[3] Muhammad bin Shalih, Mushthalah Al-Hadits, hlm. 8.
[4] Muhammad Jamaludin, Qawa’id At-Tahdits min Funun Al-Mushthalah Al-Hadits, hlm. 91.
[5] Muhammad Abu Laits, Op. Cit., hlm. 55.
[6] ‘Imad Ali, Mushthalah Al-Hadits Al-Muyassar, hlm. 40.
[7] Mulla Ali Al-Qari, Ar-Raudloh Al-Bahiyyah fi Syarhi Al-Ahadits Al-Qudsiyyah Al-Arba’iniyyah, hlm. 10.
[8] Abu Abdillah Muhammad, Al-Jami’ Ash-Shahih, Juz 1, hlm. 281.
[9] Ibid., hlm. 44.
[10] Ibid., hlm. 73.
[11] Ibid., Juz 4, hlm. 189.
[12] Ibid., Juz 1, hlm. 272.
[13] Ibid., Juz 3, hlm. 285.

Friday, November 8, 2013

PEMELIHARAAN HADIS PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW-SAHABAT-TABI’IN


A.    Definisi Pemeliharaan
Istilah pemeliharaan berakar pada kata “pelihara” yang berarti “jaga atau rawat”, kata ini mendapatkan imbuhan pe dan an yang berarti “perbuatan atau hal memelihara(kan); penjagaan; perawatan”.
Jadi yang dimaksud pemeliharaan hadis pada pembahasan ini adalah beberapa usaha yang dilakukan oleh pihak terkait dalam memelihara hadis agar tetap lestari dan juga menjaganya dari hal-hal negatif seperti kepunahan, kerusakan, penyelewengan, pemalsuan dan sebagainya.
B.     Pemeliharaan hadis pada masa Nabi Muhammad SAW
Hadis-hadis yang telah diterima oleh para sahabat, ada yang dihafal dan ada juga yang dicatat. Sahabat yang menghafal hadis Nabi misalnya adalah Abu Hurairah. Sedangkan sahabat Nabi yang mencatat hadis diantaranya yaitu Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar Al-‘Ash, dan Abdullah bin Abbas. Dengan demikian, penulisan hadis sudah dilakukan sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, hanya saja penulisan ini masih bersifat individual, bukan masal (kodifikasi).
Selain penulisan dan penghafalan, usaha pemeliharaan hadis juga terjadi dikala Nabi Muhammad SAW mengutus para sahabat ke berbagai daerah, baik untuk berdakwah atau untuk memangku jabatan. Hal ini juga ditengarai menjadi salah satu faktor utama tersebarnya hadis ke berbagai daerah. Dengan tersebarnya hadis ke berbagai tempat, maka semakin bertambah pula periwayatan yang terjadi di dalamnya. Oleh karena itu, apabila terjadi pemalsuan, maka hadis-hadis shahih yang lain dapat dijadikan sebagai pembanding dan patokan. Dengan demikian semakin banyak hadis yang tersebar, maka akan semakin kecil kemungkinan tidak diketahuinya pemalsuan hadis.
C.    Pemeliharaan hadis pada masa Sahabat
Tantangan pada masa sahabat terhadap usaha pemeliharaan hadis lebih rumit dibandingkan pada masa Nabi Muhammad masih hidup, sebab pada masa Nabi masih hidup seseorang akan lebih mudah melakukan pemeriksaan sekiranya ada hadis yang diragukan keshahihannya, yaitu dengan cara bertanya pada sahabat-sahabat kepercayaan Nabi dan bahkan menanyakan atau mengkonfirmasikannya secara langsung kepada Nabi SAW.
Terdapat beberapa upaya yang dilakukan oleh para sahabat dalam memelihara hadis, yaitu:
1.      Para khalifah memberikan persyaratan terhadap penerimaan hadis dengan mendatangkan saksi dan mengucapkan sumpah. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pemalsuan hadis yang sedang marak terjadi dimasyarakat.
2.      Taqlil ar-riwayat (تقليل الرواية)
Pembatasan terhadap kegiatan periwayatan hadis pada masa ini dibatasi adalah karena khawatir terjadinya pemalsuan hadis yang dilakukan oleh mereka yang baru masuk Islam, sebab sunnah belum terlembaga pengumpulannya sebagaimana Al-Qur’an. Para sahabat sedang bekerja keras dan berfokus pada pembukuan dan penyebaran Al-Qur’an ke berbagai penjuru daerah.
3.      Tatsabbut fi ar-riwayat (تثبُّتٌ في الرواية)
Tatsabbut fi ar-riwayat adalah usaha yang dilakukan oleh para sahabat dalam memelihara dan menjaga hadis dengan cara memeriksa dan mengkonfirmasikan hadis yang mereka riwayatkan kepada sahabat lainnya. Hal ini untuk menghindari hadis-hadis palsu yang sudah banyak tersebar.

D.    Pemeliharaan hadis pada masa Tabi’in
Pada masa sahabat Al-Qur’an masih dalam proses kodifikasi, sedangkan pada masa tabi’in Al-Qur’an sudah selesai dikodifikasi. Perbedaan inilah menjadikan tindakan masing-masing generasi (generasi sahabat dan tabi’in) terhadap hadis berbeda. Pada masa sahabat terlihat adanya pembatasan periwayatan (taqlil ar-riwayat), sedangkan pada masa tabi’in sebaliknya dikenal sebagai menyebarnya periwayatan hadis.
Dalam rangka usaha memelihara hadis, tabi’in melakukan perlawatan dan berangkat mencari hadis , menanyakan dan belajar kepada sahabat besar yang sudah tersebar di seluruh pelosok wilayah Daulah Islam. Sehingga lahirlah berbagai pusat kajian hadis seperti di Madinah, Mekkah, kuffah, Basrah, Syam, dam  Mesir.
Usaha pemeliharaan hadis yang paling besar pada masa ini adalah usaha pengumpulan dan pembukuan (tadwin) hadis secara masal yang dipelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau melakukan ini karena para perawi yang mengumpulkan hadis (secara mandiri atau individual) dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya karena meninggal dunia. Beliau khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadits dari para  perawinya, mungkin hadits itu akan lenyap dari para penghafalnya.


[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hlm. 1143.
[2] Ibid, hlm. 1144.
[3] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995), hlm. 38.
[4] H. M. Erfan Soebahar, Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi Informasi, (Semarang: RaSAIL Mdia Group, 2010), hlm. 29.
[5] M. Syuhudi Ismail, Op. Cit., hlm. 36.
[6] Ibid., hlm. 49.
[7] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 85.
[8] Endang Soetari, Ilmu Hadits  Kajian Riwayah dan Dirayah, (Bandung: Mimbar Pustaka, 2008), Cet-5. Hlm. 47.
[9] Agus  Solahudin dkk., Ulumul Hadits, (Bandung, Pustaka Setia, 2009), hlm. 62.



Tulisan di atas dapat anda download, bagi yang mau...
Silahkan Download teksnya Lewat
SINI